Posted by: puan malaya on: September 25, 2008
Isa (14 tahun)
Alamat’nya di Kelayan
Jualan koran setiap pagi di perempatan Gatsu – Jalan Tembus Banua Anyar
Namanya siapa ? : Isa
Lawas kah sudah bejualan koran disini ? : kira-kira setahun
Masih sekolah lah ? : sudah ampih, sampai kelas 6 SD aja.
Wahini umur’nya berapa ? : 14 tahun
Isa puasa lah ? : puasa ae
Kaya apa salawas bulan puasa nich ? : ngalih pang
Ngalih apa, ngalih begawi kah ? : inggih . . . lapah.
Hi’ih lah… puasa lho.
Eh, apa harapan’nya di bulan puasa nich. Jar’nya lho bulan Ramadhan nich bulan rahmat, barokah ? : biasa ae . . . biasa-biasa ja.
Kena pang . . . pas hari raya handak apa ? : paling di rumah aja. Mun urang lho, piknikan lho, bejalanan kemana kah, tapi ulun paling di rumah aja, kada ba-apa-apa jua.
Ada baisi harapan / do’a atau apakah ? : cuma senyam-senyum, geleng-geleng. Biasa-biasa ja.
Bocah perempatan itu. Yang setiap hari kulewati setiap berhenti diperempatan lampu merah, jika aku akan pergi ke kampus. Bocah yang selalu menggunakan slayer hitam khas’nya, yang menutupi sebagian wajahnya. Ntah ingin menghindar dari debu-debu jalan, hiruk-pikuk manusia dan kendaraan yang berlalu-lalang, atau ingin menutupi kesedihan atas nasib’nya
[ g@LuhBanj@R ]
riverCity, 16 september 2008
HIDUP ADALAH PERJUANGAN. PERUBAHAN HIDUP JUGA BUTUH PERJUANGAN. STAY TUNE with ALLAH
September 27, 2008 pada 2:23 am
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
di paksa pecahkan karang lemah jarimu terkepang
(iwan fals=tugu pancoran)
masih banyak lagi anak-anak sepantaran dengan isa.. yang di tuntut untuk mencari rupiah. hanya karena itu, dia bisa bertahan hidup.
kalau di kota-kota besar semisal jakarta, mereka ( bocah ingusan ) di paksa untuk mencari rupiah karena ada yang mengkoordinir. mungkin kita bisa melihat, anak jalanan yang berperan sebagai pengemis..
so, mudah-mudahan anak yang sama seperti isa, bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi yang menjerat wong cilik