Posted by: puan malaya on: Januari 27, 2009
“tit-tut-tit tut…!” bel berteriak nyaring ke seantero skul. Bagi loe2 yang baru aja memasuki gerbang skul atawa baru markir motor, tergopoh2 bersegera menuju kelas, takutnya malah keduluan sang guru killer dan walhasil maybe loe bakal didepak ga boleh masuk kelas (wadow…)
Mungkin loe pernah ngerasain betapa monoton’nya hidup. Selama 6 hari dalam seminggu, loe kudu bolak balik ke skul, ngebawa buku2 yang seabrek, mengikuti pergantian jam pelajaran yang dah loe hafal diluar kepala, sampe ngegawe tugas2 yang bikin ubun2 ngebul. Rasanya boseeeen banget dah!
Saking kaga tahannya, ada juga yang biasanya nekat bolos ga masuk skul n’ malah keluyuran ke antah berantah, atawa bolos ga masuk kelas n’ lebih milih nongkrong di kantin or “tempat2 strategis lainnya” sampe digerebek pihak sekolah (wackz J )
Hmm… klo sampe ada yang ngerasa skul (atawa kuliah juga) sebagai suatu rutinitas belaka, sebagai aktivitas yang ngeBTin, patut dipertanyakan tuch keimanan loe, uppss.. maksudnya loe mesti tanya ma diri loe sendiri, emangnya apa sich motivasi loe buat skul or kul. Karna disuruh ortu? Karna gengsi supaya dikenal sebagai orang yang pinter, berpendidikan, sarjana? Karna ada yang dikecengin? Atawa tuk matuhi aturan pemerintah WaJar 9 taon ?
Belajar itu asyik
Guyz, buang dech jauh2 dari kepala lue persepsi bahwa skul itu membosankan, delete tu file, n’ klo bisa kosongkan juga directory file itu dari recyle-bin loe. Coba dech mikir, bahwa loe tu bisa jadikan aktivitas skul itu sebagai sesuatu yang loe rindu2kan, bukan sebagai “musuh bebuyutan” yang pengen loe cincang2, atw sesuatu yang pengen loe hindari hingga loe ngerasa pengen lari ke ujung dunia (emang dimana ujungnya???)
Ngapain sich lue skul? “Tuk belajar donk” jawab loe kompakan. Yup, belajar tu emang bikin kita jadi cerdas. Yakin dech itu! Jangan khawatirkan kemampuan otak kita tuk menerima masukan informasi. Nggak bakalan luber. Kalo tong sampah sih iya, makin banyak diisi, bisa luber juga. Tapi otak kita, meski kecil namun memiliki ruang penyimpanan memori yang cukup luas. Ukuran mini kualitas maxi, getho.
Tau ga sech…! beberapa pakar pernah unjuk bicara tentang kemampuan mengingat manusia. John Griffith, seorang ahli matematika pernah bilang, “Setiap manusia normal mampu mengingat 1.000.000.000.000 bit informasi”. Bahkan om John von Neumann, ahli teori informasi, menghitungnya sampai 280.000.000.000.000.000.000 (280 diikuti delapan belas angka nol di belakangnya) atawa 280 kuintiliun bit).
Kita mampu mengingat informasi sebanyak itu? Bisa kok. Buktinya banyak kan sobat2 kita yang jadi tahfidz qur’an (ada yang sampe hafal 30 juz qur’an). Itu baru hapal Quran, gimana dengan mereka yang hapal Quran sekaligus hadis? Imam Bukhari contohnya, beliau sanggup menghapal ratusan ribu hadis lengkap dengan sanad dan rawinya. Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad bin Hambal pun, empat mujtahid yang hasil ijtihadnya banyak dijadikan rujukan kaum muslimin di seluruh dunia ini merupakan ulama sekaligus pelajar andal yang sanggup menguasai seluk-beluk ilmu fiqih. Subhanallah.
Nuntut ilmu ? kebutuhan + kewajiban
Guyz, kita insya Allah bisa. Bisa pinter, bisa punya wawasan banyak. Semuanya karena dimulai dengan motivasi bahwa sekolah itu sesuatu yang menyenangkan, bahwa belajar itu emang sebuah kebutuhan. Lagipula, sebagai seorang muslim, yang namanya menuntut ilmu itu emang kewajiban kita. Apalagi yang namanya menuntut ilmu agama, itu fardhu ‘ainĀ bagi setiap individu. Subhanallah… yang namanya kewajiban, ketika kita melakukannya, maka pahala kan beterbangan ke arah kita, jadi makin enjoy dech sekolahnya J
Oya, Allah Swt. juga bakalan meninggikan derajat bagi orang-orang yang beriman dan berilmu. Jadi berbahagialah kalo kita udah beriman dan berilmu. Allah Swt. udah ngejelasin dengan gamblang dalam firmanNya:
“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS al-Mujaadilah [58]: 11)
Bahkan nih, saking pentingnya punya ilmu dan ketakwaan, Imam syafi’i pernah bilang begini, “Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan).”
Maka, nggak salah dong kalo Rasulullah saw. menyampaikan: “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.” (HR Bukhari)
Happy learning
Lue pade pasti dah punya tips sendiri untuk selalu belajar dalam hidup ini. Itu akan jadi patokan buat kita dalam melangkah. Oke deh, nih ada sedikit tips buat kamu:
BERANI BELAJAR Semua orang pada dasarnya tidak tahu dan tidak mampu. Hanya orang yang berani belajar yang akhirnya akan tahu dan mampu. Ada begitu banyak cara untuk belajar. Kita tinggal memilih cara belajar yang kita sukai. Namun harus dipastikan bahwa cara belajar yang dilakukan, bisa membuat kita lebih mengerti dan memahami banyak hal. Sehingga kita mampu melihat dan mengetahui bahwa ada banyak cara dan pilihan untuk meraih kehidupan yang lebih baik.
Jangan cepat puas. Perasaan cepat puas dalam diri kita kudu segera dikubur dalam-dalam. Nggak baik cepat puas ketika belajar. Jangan sampe baru bisa belajar di level 2 (dalam skala 10) kita udah merasa cukup puas. Lalu malas belajar. Yup, belajar tak pernah henti. Terus belajar sampai mati.
Meluangkan waktu untuk belajar lebih banyak. Jujur saja, waktu 24 jam dalam sehari tiap orang sama. Allah memberikan sama kepada setiap orang. Mereka yang berhasil dan sukses biasanya yang pandai memanfaatkan waktunya. Ada yang memanfaatkan waktu luang dengan santai, ada yang malah belajar. Jadi, yang membedakan mereka yang sukses dengan yang gagal salah satunya adalah dalam memanagemen waktunya dengan baik. Betul ndak?
Jangan porsir otak kita. Meski memiliki kapasitas penyimpanan memori yang besar, tapi perlakukan otak kita dengan baik. Jangan porsir dengan terus-menerus. Biarkan beberapa waktu otak kita melakukan relaksasi dan pelemasan. Hibur dengan berbagai aktivitas yang menyegarkan dan menyenangkan.
Manfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Kata pepatah, kesempatan cuma datang sekali. Jadi, bersiaplah untuk menyambutnya. Lakukan sekarang juga, jangan tunggu esok. Saat ini, ketika masih muda, kesempatan itu segera manfaatkan untuk belajar. Jangan tunggu hari esok, apalagi kalo udah tua, selain susah mengingat, juga cepat lelah tenaga. Nggak mau dong kamu kayak gitu? Belajar tuh kapan aja, di mana saja, dan kepada siapa aja. Kalo ada kesempatan, langsung deh manfaatkan. Oke?
Pelajari, pahami, dan amalkan. Nah, ini penting juga sobat. Nggak cuma belajar doang, tapi setelah dipahami kudu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. “Learning has not taken place, until behaviour has changed,: belajar tidak akan berarti apa-apa, sampai terjadi perubahan perilaku. Buat kita, dan juga buat orang lain. Jadi memang kudu didakwahkan. Soalnya memang sayang banget, kita udah banyak tahu selama belajar, kita juga udah paham luar-dalam, tapi nggak disampaikan lagi ke orang lain. Jangan sampe begitu deh.
Yang bikin sebagian remaja males belajar n’ ga paham hakikat skul, ga cuma faktor individu aja loh, but of course yang tak kalah penting perlu juga didukung ma sistem pendidikan yang benar, coz tujuan pendidikan ga hanya tuk melahirkan manusia2 cerdas. Berapa banyak orang yang pinter, tapi dia korupsi, jadi ‘preman’, pecandu free-sex, dll. Pantas saja, saat ini banyak pelajar yang ga mendapatkan ’soul’ tuk happy learning, karena emang atmosfer pendidikan saat ini disetting sekedar mengejar materi ; tuntutan mendapat nilai tinggi & lulus cepat sehingga menghalalkan berbagai cara tuk mencapainya. Parahnya lagi, fenomena kekerasan kini turut menghiasi potret buram dunia pendidikan.
Pantas aja sekarang dah mulai marak yang namanya metode belajar dengan homescholing. Salah satu sebab kemunculannya adalah sebagai bentuk kekecewaan terhadap institusi pendidikan saat ini ; yang monoton, ga menantang, ga explor, n’ ga berhasil mewujudkan kepribadian para peserta didik. Klo dalam Islam mah.. tujuan pendidikan tu ga cuman sifatnya materi, but yang paling utama tujuan pendidikan itu tuk membentuk kepribadian Islam (pola fikir dan pola sikap’nya sesuai dengan Islam) n’ membekali anak didik dengan sejumlah ilmu & pengetahuan yang berhubungan dengan urusan hidupnya.
Yup, udah terbukti amburadul banget emang jadinya klo yang digunain sistem kapitalis sekuler. Maka’nya, jadi makin merindukan banget bermunculan kembali ilmuwan seperti Ibnu Sina, al-Khawarizmi, Ibnu Khaldun, dkk yang ga cuma gape tuk urusan agama but juga saintek’nya te o pe bangetz. Dan tu cuma bakalan bisa terjadi lagi klo emang diterapin aturan Islam di segala aspek kehidupan, termasuk juga di bidang pendidikan.
Are U ready,Guys ?! [by : G@luh Banjar]
September 21, 2009 pada 7:57 pm
top deh untuk uniQ.. memberikan opini, betapa pentingnya mencari ilmu. karena ilmu itu bisa menjaga kita kelak lho